Energi kesenangan adalah energi dunia sementara energi ketenangan adalah energi masa depan kita, jauh melampaui urusan dunia.
Ketika kurma busuk yang ia beli dari para petani di Madinah diborong oleh para pengusaha dari Yaman dengan harga tinggi Abdurahman bin Auf merasa senang karena mendapatkan keuntungan. Namun hatinya tidak tenang, bukan karena penjualannya melanggar syariat tapi ketidak tenangan itu karena dilatarbelakangi tausiah dari Rasulullah dimana hisab orang kaya akan lebih lama daripada hisab orang miskin.
Abdurahman bin Auf tidak ingin waktu hisabnya lama makanya dia tenang meski dia senang mendapatkan keuntungan dari penjualan kurma busuknya.
Kesenangan dan ketenangan sering tertukar dalam keseharian kita. Padahal itu dua hal yang berbeda baik dari rasa maupun logika. Sebagian dari kita termasuk saya seringkali berlari sampai nafas terengah - engah untuk mengejar kesenangan bukan ketenangan.
Kesenangan seringkali melenakan tetapi ketenangan justru meluruskan. Kesenangan seringkali membuat kita lupa daratan, tapi ketenangan justru menyadarkan kita saat berada di persimpangan jalan.
Maka kejarkan ketenangan bukan kesenangan, karena kesenangan itu alamiah akan diterima oleh siapapun karena sifatnya tidak konstan, artinya apakah klaster miskin, klaster kaya pasti akan dinamis. Artinya terkadang senang, terkadang sedih selalu begitu kehidupan manusia.
Tidak ada manusia yang hidupnya senang terus sepanjang masa, sebaliknya tidak ada manusia yang hidupnya sedih terus. Pasti digilirkan, ada masanya kita senang, ada masanya dimana kita sedih selalu begit siklusnya.
Tapi ketenangan bisa bertahan lama, tidak sesingkat kesenangan apabila dirawat, dipupuk dan menjadi fokus finish kita. Energi yang dikeluarkan oleh kesenangan berbeda dengan energi yang dikeluarkan yang bersumber pada ketenangan.
Energi kesenangan adalah energi dunia sementara energi ketenangan adalah energi masa depan kita, jauh melampaui urusan dunia.
Memiliki banyak harta dan kekuasaan mungkin akan mendapatkan kesenangan, tapi belum tentu ketenangan. Sebaliknya, menjadi orang biasa mungkin prosentase kesenangannya sedikit tapi prosentase ketenangannya dilebihkan.
Ada juga tidak punya kuasa dan harta tidak mendapatkan dua - duanya, entah senang entah tenang. Inilah seburuk - buruknya nasib manusia.
Bisakah kesenangan dan ketenangan hadir dalam waktu bersamaan? Bisa ketika kita bisa menempatkan keduanya secara proporsional. Tapi seringnya kita suka terbalik menempatkannya sehinggga lebih banyak terpisah.
Siti Hawa merasa senang karena bisa memetika buah khuldi, tapi pada akhirnya dia tidak tenang karena dari kesenangan ini yang menimbulkan kemarahan Allah sehingga Hawa dan Adam diusir dari Surga.
Dalam kehidupan sehari - hari kita pun kerapkali menemui peristiwa serupa. Senang ketika mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi dalam perjalanan kesenangan ini justru menimbulkan ketidaktenangan.
Ayoo kita instal ulang cara berfikir kita, kita upgrade konsep hidup kita soal kesenangan dan ketenangan. Kita mesi belajar dari waktu ke waktu melalui media pembelajaran yang Allah berikan kepada kita.
Karnoto
Social Footer