Langit Subuh mulai berkedip dari tidur panjangnya, udara dingin mulai bercanda dan kicauan burung serta jago berkokok mulai saling menyapa.
"Jogging yuk," bisik hati saya ke pikiran sendiri. Mungkin itu bisikan malaikat sebelah kanan agar saya terjaga dari tidur setelah Subuh, karena itu adalah waktu buruk untuk tidur.
Sekali dua kali bisikan itu belum menggugah ghiroh (semangat) saya walaupun sudah ada niat dari semalam kalau pagi ini mau jogging.
"Ga usah jogginglah, ngapain juga puasa puasa jogging nanti haus dan batal puasanya, mending tidur,". Bisikan versi lain datang ke telinga. Mungkin ini pasukan setan.
Narasinya terkesan baik dan racikan kalimat yang manis sehingga menggoda untuk diikuti.
Sempat beberapa menit tiduran, tergoda juga saya rayuan setan, ha ha ha.
Emang benar kata ustadz, jangan adu ilmu dengan setan karena pasti kita kalah. Mintalah backup Allah agar kita terjaga dari bisikan dan rayuan setan.
Alhamdulillah akhirnya saya bisa bangun, pakai sepatu dan jalan kaki dari rumah ke Terminal Pakupatan - Kampus Untirta - Kampus Bina Bangsa dan balik lagi ke rumah.
Dari jalan kaki pagi ini saya jadi mengerti bahwa hidup sebenarnya proses kita membuat sejarah untuk diri kita.
Dan ternyata sejarah kita adalah titik langkah kaki kita yang terputus - putus. Pagi ini misalnya, saya jalan kaki dari rumah dan rumah adalah titik sejarah kita.
Melangkah ke Terminal Pakupatan, dimana terminal ini ada sejarah saya, dimana dulu saya pernah punya kios toko kelontongan termasuk sejarah lain yang tak terlupakan.
Di depan terminal ada Labaik Chicken, ini juga ada sejarah saya karena sering membeli makanan siap saji ini.
Termasuk Apotek sampai Kampus Untirta dan Bina Bangsa juga ada sejarah saya yang tertempel. Dari sini saya jadi mengerti bahwa jalan kaki bukan sekadar sehat tapi juga mengasah berfikir kuat.
Penulis
Karnoto
Social Footer