Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini.
Kalau kita belajar sejarah Islam maka sebenarnya disana tidak hanya ditemukan perihal ibadah rutinitas atau persoalan - persoalan ukhrowi.
Tetapi sesungguhnya ada banyak sejarah di luar urusan ukhrowi termasuk di dalamnya perihal cinta. Ada kisah cinta dalam diam antara Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fatimah, puteri Rasulallah SAW.
Hal ini terungkap ketika mereka berdua menikah lalu Ali mengatakan kepada Fatimah bahwa sesungguhnya dia mencintainya sejak lama. Dan Aisyah pun ternyata sama, sejak lama dia punya rasa kepada Ali. Lalu Allah satukan cinta mereka dalam syariat pernikahan sehingga keduanya tentram.
Ada kisah cinta Agung, yaitu cinta Rasulullah dengan Siti Khadijah. Ada cinta karena saling mencintai yaitu cinta antara Nabi Ibrahim dengan Sarah. Dan ada cinta setelah menikah yaitu kisah cinta Rasullah dengan Aisyah. Ada cinta diplomatis antara Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis
Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.
Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.
Artinya:"Katakanlah: 'Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Surat Al Baqarah:152
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ
Karena cinta menjadi hal penting maka kemudian munculah sejumlah ulama yang mereka konsentrasi mengkaji tentang cinta. Diantara ulama itu adalah Ibnu Qayyim Al Jauziah.
Terlihat sederhana tetapi dampaknya luar biasa. Ada seseorang yang menjadi punya kekuatan dan arah hidup jelas karena cinta. Sebaliknya, ada seseorang menjadi gelap jalannya juga karena alasan cinta.
Sebenarnya bukan cinta yang salah, tapi ketidakmampun seseorang mengelola cinta. Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan bahwa Cinta bisa membuat perubahan terhadap seseorang dengan cara sederhana.
Oleh karena dampaknya luar biasa maka Ibnu Qayyim, seorang ulama besar ini menulis khusus tentang cinta. Dia ingin membantu umat Muslim agar punya kemampuan mengelola cinta.
Ia bagi cinta ke dalam empat ruang, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada yang dicintai Allah, cinta untuk Allah dan cinta terhadap hal lain selain Allah. Inilah upaya Ibnu Qayyim meluruskan perspektif cinta lebih komperhensif tidak parsial sehingga kita bisa menempatkan cinta sesuai porsinya masing - masing.
Bagaimana merawat cinta? Tentu saja Islam juga telah memberikan petunjuk teknis yang lengkap dan detail. Inilah mengapa kita perlu belajar !
Karnoto
Social Footer