Raungan knalpot beberapa kali terdengar nyaring memecah suasana malam di gedung kuning. Gedung tua yang dibangun sekira tahun 1980 - an. Angin malam mulai nakal mengajak becanda dengan kulit kami yang masih duduk di kursi dibawah tangga tua yang terlihat mistis karena jarang ada orang naik.
Saya dan beberapa teman berbincang tanpa tema, terkadang bicara politik, keluarga sampai rumah tangga. Suasana seperti ini sebenarnya tidak asing untuk saya karena sejak kecil dulu di kampung hampir setiap malam.
"Sini, sini kita evaluasi dulu," kata Sabihis, salah satu orang yang dituakan. Terlihat tiga gadis berhijab yang tidak asing datang. Silvi dan Vina duduk di sofa sebelah timur, Rima duduk di kursi kayu berdekatan dengan dapur.
Malam itu entah hari keberapa mereka diperbantukan soal data. Satu persatu tiga gadis itu menyampaikan kerja selama sehari itu. Saya sendiri cuma mendengarkan karena memang tidak begitu faham soal kerja data.
"Daripada ngolah data mending diskusi semalam suntuk," demikian aku sampaikan kepada Muti'i dalam beberapa kali kesempatan. Rima, salah satu gadis yang resmi menyandang status Sarjana beberapa bulan lalu memulai penyampaikan kerja dan temuan soal data dan validasi.
Balutan celana panjang putih membantu penerangan malam itu meski ada lampu. Sembari memangku laptopnya dia sampaikan satu persatu kendala dan hasil kerjanya hari itu.
Setelah Rima disusul Silvi dan Vina yang melanjutkan evaluasi kerja hari itu. Kacamata dua gadis memantulkan kilatan cahaya dari lampu. Mereka berdua pun menyampaikan evaluasi beberapa menit.
Tiga gadis itu sebenarnya dalam proses berjuang. Berjuang tentang pembuktian sebagai komunitas intelektual sebagai orang yang pernah mengenyam studi di perguruan tinggi.
Berjuang tentang identitas dan menentukan arah hidup kedepan, berjuang tentang mencari pekerjaan dan berjuang tentang kapan bisa membuat keluarga mereka bangga.
Karena fase berjuang otomatis isi kepalanya berisik meski berusaha menenangkan diri. Tidak mudah memang berjuang ditengah situasi sekarang, dimana situasi global sedang tidak baik - baik saja termasuk di negeri kita sendiri.
Fase berjuang memang melelahkan, tidak menentu dan pada waktu bersamaan ada gelombang yang bisa menghempas dan membawa seseorang. Tapi buat para peselancar gelombang tinggi justru yang ditunggu karena disitulah permainan selancar akan lebih seru.
Kapan akan berakhir? Tidak ada kepastian. Yang pasti Allah sudah atur cerita hidup seseorang dengan detail, mulai jam, detik, tempat dan lainnya, detail banget ! Sebetulnya ada tiga teman mereka, yaitu Eva, Ila dan Cici.
Merekalah yang menjadi "SPG" saat Pileg. Namun dalam perjalanannya Eva bekerja di salah satu BUMN, Ila bekerja di kantor penyelanggara pemilu dan Cici saya tidak tahu entah kemana.
Tersisa Rima, Eva dan Vina, tiga gadis yang sedang berjuang. Semoga kalian kelak menemukan mimpinya masing - masing. Boleh lelah tapi tidak boleh menyerah.
Penulis,
Karnoto
Social Footer