Citra diri itu harus spesifik dan tidak multitafsir sehingga ketika publik membaca dan melihat diri kita terlihat jelas, siapa sebenarnya kita.
Secara alamiah sebenarnya kita didesain untuk membangun citra diri. Dari mana bisa dilihat? Dari potensi alamiah yang Tuhan berikan kepada setiap orang. Ada yang diberi potensi public speaking sehingga ia bisa menjadi orator ulung, ada yang diberi potensi komunikasi, kemampuan lobi, menulis, mendesain dan lain sebagainya.
Kita terlahir bukan seperti Superman yang serba bisa karena tinggal terbang sana, terbang sini. Realitasnya diri kita diberi keunikan berbeda dengan orang lain.
Keunikan itulah yang kemudian kita create sebagai identitas diri kita sehingga citra diri bisa dikenali publik. Dan citra diri ini pernah terjadi pada Rasulullah SAW dengan tagline personal Muhammad Al-Amin, artinya Muhammad orang yang dipercaya.
Begitupun citra diri pada empat sahabat Rasul, Umar Tegas, Abu Bakar Bijak, Utsman Dermawan dan Ali Semangat. Bukankah itu citra diri? Jadi, citra diri itu menjadi hal penting untuk memperjelas siapa kita sehingga publik bisa mengenali diri kita.
Citra diri itu harus spesifik dan tidak multitafsir sehingga ketika publik membaca dan melihat diri kita terlihat jelas, siapa sebenarnya kita. Apakah penulis, pengusaha, politisi, birokrat dan lainnya. Profesi yang saya sebutkan di atas sebenarnya masih umum kendati sudah ada kejelasan tentang diri kita.
Konsep citra diri secara teoritis menggabungkan beberapa hal, mulai dari komunikasi, advertising, media planning dan public relation. Soal teori ini akan saya jelaskan pada bagian lain.
Saya ingin menegaskan kembali bahwa citra diri itu penting karena dari citra inilah identitas kita bisa dikenali publik dan mempermudah kita untuk leading tampil sebagai seseorang dengan identitas yang jelas. ***
Social Footer