Breaking News

Ketika Orang Dapur Tampil di Depan Umum [CatatanStafAhli Bagian-1]



#CatatanStafAhli [Bagian-1]
Orang Dapur Terpaksa Tampil di Depan Umum

Beberapa bulan terakhir ini "terpaksa" saya bicara di depan mahasiswa, aktivis persisnya. Jujur saja, sebenarnya saya tipe orang "dapur" yang bekerja di belakang layar.

Tapi pada situasi tertentu saya terpaksa tampil di publik. Dulu saat masih di kampus beberapa kali saya memimpin aksi dan terpaksa harus orasi di atas mobil aksi yang penuh dengan soundsystem.

Beberapa kali saya juga terpaksa tampil di sebuah forum aktivis lintas kampus, lintas daerah. Dan sekarang juga terjadi lagi, dimana saya dipaksa situasi harus tampil di depan aktivis di Banten.

Di depan anak anak BEM di Banten, BEM UIN, aktivis PMII dan KAMMI. Untungnya saya anak komunikasi yang belajar komunikasi, mulai dari komunitas antar personal, interpersonal, komunikasi antar budaya sampai komunikasi massa.

Setidaknya bisa menyelamatkan saya ketika tampil di depan para aktivis. Karena sering hadir di forum lintas gerakan mahasiswa jadi saya paham culture bahasa mereka.

Di KAMMI misalnya, karena ini gerakan mahasiswa dakwah maka saya akan panggil mereka Akhi Ukhti. Di depan anak BEM yang biasanya heterogen pengurusnya saya akan panggil bro.




Di depan anak HMI saya manggil Kanda Dinda dan di depan anak PMII dan IMM saya biasa manggil sahabat.

Saya juga harus menyesuaikan pakaian saya. Bukan apa - apa, karena pakaian yang kita pakai juga bagian dari simbol komunikasi. Tujuannya agar saya tidak dianggap orang lain, tetapi menjadi bagian dari mereka sehingga mereka merasa nyaman dan kita bisa ngobrol enak.

Seperti Ramadhan tahun ini (2025) saya dipaksa situasi untuk menjadi narasumber acara aktivis. Karena posisi saya tidak semata sebagai personal maka saya juga lebih hati hati bicara karena ada nama Ketua DPRD Provinsi Banten di pundak saya.

Tentu saja ini membawa konsekuensi dengan penampilan dan isi bicara saya. Karena mereka akan menyematkan nama besar di belakang saya. Posisi sebagai Staf Ahli Ketua DPRD Banten sebenarnya secara otomatis memproteksi bicara dan penampilan saya.

Kalau atasnama pribadi saya mungkin cuek dan bebas bicara tapi kali ini tidak bisa karena menjaga nama Ketua DPRD Banten.

"Ini sekarang Abang kita, kita nunggu arahan dari Abang ini," kata senior BEM salah satu kampus di Banten.

Ada juga aktivis perempuan di BEM yang langsung minta waktu khusus. "Bang saya minta waktu dong, mau konsultasi. Curhat sih sebenarnya," kata salah seorang pengurus BEM ketika saya selesai menyampaikan materi.

Saya sadar harus bisa adaptasi dengan realitas yang ada, dari orang dapur kini sering tampil di depan umum.

Sebagai pembelajar saya memaknai realitas ini adalah proses belajar saya tentang komunikasi, tentang psikologi dan tentang membaca situasi.

Biarlah mengalir kerumitan hidup saya sampai takdir Allah membawa saya ke samudera hidup. Saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya.

6 Ramadhan 2025
Penulis,
Karnoto

Type and hit Enter to search

Close