Breaking News

Memungut Hikmah di Universitas Kehidupan



#SerialJalanPagi
Memungut Hikmah di Universitas Kehidupan

Sejak kecil, remaja, dewasa dan sampai sekarang jalan kaki adalah hobi saya. Entahlah, mungkin karena terlatih sejak kecil jadi seperti menjadi habit.

Saat sekolah dasar saya berjalan kaki dari rumah ke sekolah, jaraknya kurang lebih tiga kilometer. Selama enam tahun bolak balik dari rumah ke sekolah dan enjoy saja.

Biasanya saat pulang sekolah saya lewat kebun tebu dan mencari burung. Ketika haus tinggal potong tebu. Terkadang dikejar - kejar penjaga, ha ha ha ha.

Dan sampai sekarang saya juga suka jalan kaki. Terkadang jalan kaki dari rumah ke Ciceri melewati sepanjang trotoar. Terkadang pagi hari seringnya juga sore.

Dan pagi tadi saya berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan dari Jalan Raya ke trotoar sepanjang Untirta hingga Universitas Bina Bangsa lalu balik lagi melewati terminal.

Dari perjalanan pagi tadi saya seperti sedang kuliah di Universitas Kehidupan. Usai shalat Subuh saya keluar dan jalan kaki. Saya melihat berbagai macam gambaran kehidupan. Ada yang sedang siap - siap buka jualan, ada sopir yang tertidur, ada pelayan toko yang siap - siap ganti shift.

Ada pula pedagang sayur pulang dari pasar dan ada tukang ojek yang masih menunggu penumpang. Ada juga petugas kebersihan yang mulai siap - siap menyapu jalan.

Kalau melihat potret kehidupan di pagi hari saya bersyukur. Karena tidak seperti karyawan pabrik yang harus berangkat pagi pagi buta. Saya pernah merasakan seperti mereka ketika bekerja di Majalah Warta Ekonomi Jakarta.

Karena kantor di Jakarta sedangkan saya di Kota Tangerang maka saya berangkat jam enam pagi baru sampai rumah sekira jam tujuh malam. Sebenarnya jam pulang kantor jam empat sore cuma tahu sendiri jalanan di Jakarta muacetnya minta ampun.

Saya suka belajar di universitas kehidupan karena beberapa hal, pertama menambah rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada saya.

Kedua, menjadi pembelajaran bahwasanya hidup seseorang sudah punya ceritanya masing - masing. Mereka mungkin lebih berat dari kita tapi ga sebirisk kita yang diberi peran lebih ringan daripada mereka.

Dan ketiga, menjadi motivasi saya bahwa kehidupan itu memang begitu. Jangan mengira mereka ga pernah bahagia, pernah kok sebagaimana kita menjalani selama ini.

Hidup itu sebentar senang, sebentar susah. Sebentar bahagia sebentar sedih. Sebentar tertawa sebentar menangis. Siklus hidup memang begitu, kecuali kita sudah tinggal di Surga baru adanya cuma nikmat.

Namanya juga Surga, ya tidak ada lagi ujian, tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi tangis sedih, yang ada yang cuma nikmat sebagaimana dulu pernah dinikmati Adam dan Hawa termasuk iblis juga pernah menikmati surga.

Penulis,
Karnoto

Type and hit Enter to search

Close