Bersyukur akhirnya saya bisa berdiri di atas JPO Phinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat setelah kemunculannya dimasa Gubernur Anies Baswedan viral.
Kawasan ini cukup familiar karena saat bekerja di Majalah Warta Ekonomi selama 1,5 tahun hampir setiap hari melewati kawasan ini. Bedanya dulu belum ada JPO yang eksotis seperti sekarang.
Sebenarnya niatnya sudah lama cuma baru terlaksana Sabtu kemarin, Alhamdulillah. Ada beberapa JPO yang mau saya datangi beberapa waktu ke depan, seperti JPO Hotel Indonesia sekaligus ingin jajal naik MRT.
Semoga Allah mudahkan rencana saya. Nah, saya ingin cerita sedikit jalan - jalan saya di JPO Phinisia. Pertama saya bertemu dua gadis asal Palembang.
Saya kebetulan bawa kamera tele dan lagi duduk di bagian atas lalu mereka datang. "Ka, fotographer ya. Berapa Ka biaya fotonya," tanya salah seorang dari mereka.
"Oh ga Mba, ini saya iseng aja, tapi kalau mau nanti saya ambilin fotonya," jawab saya.
"Ooh boleh Kak, makasih Kak," kata mereka. Setelah itu kita duduk bareng ngobrol. Namanya juga jurnalis, reflek saja saya yang banyak bertanya.
Rupanya mereka gadis Palembang yang sedang mengikuti pelatihan untuk kerja di Jepang.
"Berani amat kalian ke Jakarta," kata saya. Mereka pun cerita kalau mereka sudah dua pekan di Jakarta dan ngekos di Sudirman.
Saat saya tanya mereka bilang gini.
"Harus Kak, kan kita mau pergi lebih jauh, ke Jepang jadi harus berani dong ke Jakarta sendirian," jawab mereka.
"Mahal dong kos di kawasan ini,?" Tanya saya. Mereka mengatakan biaya kos Rp 1,1 juta per bulan dan kamar mandi di luar.
Kuran lebih satu jam kami berbincang bincang. Saya baru tahu kalau orang Palembang memanggil orang dengan sebutan Kak dan Ayu atau Mba.
Tadinya setahu saya panggilan Mba dan Ayu cuma di Jawa. Jadi kalau di Jawa itu kita biasa manggil Mbak, Mbakyu atau Yu kependekan dari Ayu.
Setelah ngobrol mereka mengeluarkan barang warna hitam dan rupanya kamera tele. Mana kameranya bagusan mereka lagi, ha ha ha.
"Lah itu kalian bawa kamera tele,?" Tanya saya
"Iya Kak cuma ga bisa pakainya, ga bisa setingan manual," ha ha ha," jawab mereka.
Kami tertawa bareng dan mereka minta diseting diafragma dan ISO kamera. Setelah itu mereka foto foto sendiri dengan kamera mereka sendiri.
" Kak makasih ya, maaf kita mau foto foto dulu," kata mereka. Sebelum bergegas mereka meminta nomor wa saya dan saya kasihkan.
Selesai berbincang dengan gadis Palembang yang bernyali saya turun dari jembatan dan ngopi.
Saya lihat ada beberapa penjual kopi yang digantung di sepeda. Mereka jualan di trotoar di depan Hotel Mayapada. Sembari pesan kopi lagi lagi saya tanya mereka, mulai dari sejak kapan jualan kopi, asalnya dari mana, berapa penghasilannya.
Rupanya mereka kelompok dari Madura. Ada yang sudah 10 tahun, lima tahun. " Sudah 10 tahun Mas tapi begini gini aja," kata salah satu penjual kopi.
" Ga apa-apa, yang penting nanti anaknya dinsekolahin ya, pendidikan penting Mas," kata saya sok bijak gitu, ha ha ha ha.
Mereka melirik kamera saya dan penampilan saya. " Fotografer ya Mas atau Wartawan," tanya mereka.
" Ga lagi iseng -iseng aja," jawab saya. Obrolan berikutnya soal Banten dan Madura. Kata mereka banyak orang Madura belajar ilmu di Banten.
"Ilmu apa nih, santet atau pelet,ha ha ha," canda saya. Mereka jawab dua duanya.
"Waduh, ha ha ha," kita ketawa bareng. Sekadar diketahui di Madura itu ada tradisi mengerikan namanya Carok, yaitu duel satu lawan satu dengan menggunakan alat celurit.
Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan sampai sekarang masih ada. Ketika duel maka pasti ada yang meninggal kena celurit bahkan mati dua duanya.
Kurang lebih dua jam saya ngobrol bersama mereka. Dan ketika hendak cabut mereka bertanya lagi pekerjaan saya.
"Kalau Mas kerjanya dimana," tanya mereka.
Dan saya jawab saya cuma kuli mas, biasalah bisanya cuma jadi kuli, kadang manggil diboasar, kadang jualan nasi uduk.
"Palu Gada mas, apa apa yang ada saya lakuin, ha ha," canda saya. Mereka pun tertawa.
"Bisa aja mas nih, dari cara ngomongnya saja sudah beda. Bukan orang biasa," kata mereka.
Saya bilang begini, " emang orang Banten kalau ngomong keluar api ya, ha ha," canda saya lagi. Kami pun tertawa bareng seperti teman lama baru ketemu.
Tak lama ojek online datang dan saya cabut menuju ke pintu tol Kebon Jeruk untuk pulang ke rumah di Kota Serang, Banten.
Bagi saya traveling itu bukan sekadar jalan jalan tapi media pembelajar. Saya bisa belajar dari hidup orang lain, bisa belajar dari sopir, pekerja, tukang kopi, seketenubya saja.
Terpenting adalah bukan dimana kita jalan jalan tapi sejauhmana kita bisa memetik hikmah pada setiap perjalanan kita.
Karnoto
Social Footer